Bismillah
Judge
minded, sebuah frasa yang kedengarannya entahlah. Hehe. Tapi kalau dari bahasa
it means membuat/menjatuhkan penilaian, justifikasi terhadap sesuatu atau
seseorang. Lebih tepatnya melabeli seseorang. Selaku manusia yang punya
keterbatasan sering kita memberi judge minded pada seseorang atas tindakan yang
dilakukannya, yang terlihat kasat mata. Dan terkadang atau sering penilaian itu
tidak tepat sehingga seseorang menjadi salah untuk dipahami.
Mengapa
salah dipahami? Karena yang kita lihat hanya tampak luarnya saja. Dan itu bukan
murni kesalahan pada yang memberi penilaian karena sampai disitulah kapasitas
pemahamannya. Hanya yang terlihat, di hati siapa yang tahu kan.
Padahal,
banyak orang yang tidak seperti tampak luarnya, atau kalau mengutip kata Mr
Hirata, sebagian besar orang tidak seperti bagaimana mereka tampaknya sehingga
begitu banyak orang yang salah dipahami.
Karena
itulah, kita selaku manusia mesti menyediakan sebuah ruang dalam pikiran dan
hati kita tentang kemungkinan banyak faktor mengapa seseorang melakukan sebuah
tindakan atau mengambil sebuah keputusan. Apa yang menjadi motivasinya,
alasannya, perspektifnya dan ekspektasinya terhadap perilaku maupun tindakan
yang dipilihnya. Artinya, alangkah lebih elegannya ketika kita tidak serta
merta menjudge seseorang hanya berdasarkan perilaku yang tampak dari luarnya.
Meski
sebenarnya hal ini bisa menjadi sebuah hal yang dilematis. Hanya saja, tetaplah
berprasangka baik, ber positif thinking (haha, sama aja) terhadap orang lain.
Terhadap keputusan yang dipilihnya dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
sehingga yang ada dalam kehidupan kita adalah ruang-ruang untuk selalu saling
memaafkan, mendoakan, dan mengingatkan.
Teringat
akan kisah seorang sahabat Rasul saw yang terkenal punya track record yang
baik. Ka’ab bin Malik. Sahabat yang satu ini tidak pernah ketinggalan untuk
menyambut seruan Rasul untuk berjihad melawan kaum kuffar. Sampai satu waktu,
tanpa alasan yang bisa diiterima syar’i ia tidak membersamai rombongan
Rasulullah pada perang Tabuk.
Ketika
Rasulullah beserta rombongan tiba di Mekkah, maka berdatanganlah mereka yang
tidak ikut berperang menemui Rasulullah saw untuk memohonkan ampun kepada Allah
dan mereka mengutarakan beragam alasannya. Rasulullah pun memenuhi permintaan
mereka. dan menyerahkan urusan hati kepada Allah. Apakah alasan yang
dikemukakan benar atau sekedar dibua-buat bukanlah kapasitas Rasul untuk
mengukurnya. Pun kita, mestinya melakukan hal yang sama.
Ka’ab
pun melakukan hal yang sama, menemui Rasulullah untuk mengutarakan alasan absen
dirinya. Dalam batinnya sebenarnya banyak pertentangan, apakah akan memilih
jujur dengan konsekuensi yang beragam, atau membuat-buat alasan yang logic
untuk kemudian dimohonkan ampun oleh Rasul kepada Allah dan urusan selesai.
Keputusan itu berat. Tapi dengarlah apa yang dikatakan Ka’ab.
“Ya
Rasulullah, andai saja aku bukan berhadapan dengan utusan Allah tentulah aku
dapat mengemukakan alasan yang dapat diterima atas ketidakikutsertaanku. Namun,
aku percaya kalaupun engkau tidak mengetahuinya tentulah Robb engkau adalah
Maha Mengetahui bahwa tidak ada alasan yang memberatkanku untuk absen dalam
perang itu melainkan penundaan yang kuikuti sehingga akupun ketinggalan dari
rombongan. Kemudian ada niat dalam hatiku untuk menyusul rombongan keesokan
harinya dan itupun urung aku laksanakan.” Itu jawaban Ka’ab, apa adanya. Meski
ia tahu konsekuensinya adalah beragam, mulai dari tanggapan miring kaum
musyrikin, pengucilan, dan lainnya.
Pengakuan
Ka’ab awalnya memang berbuah pahit, ia dikucilkan. Tidak satupun kaum muslimin
diizinkan untuk berbicara, bertransaksi dengannya. Ketika ia mengucap salam
pada mereka, tak satupun menjawab salamnya. Ketika ia menemui Rasulullah maka
beliau memalingkan wajahnya. Ah, dunia seolah sangat sempit bagi Ka’ab. Sampai
hari ke-40 hukuman itu bertambah lagi, ia disuruh untuk menjauhi istrinya yang
selama masa pengucilan adalah satu-satunya
yang menemaninya. Ka’ab protes, muntab? Ia dengan keikhlasan menjalankan
hukuman itu.
Saat
pendar kehidupan semakin redup bagi Ka’ab, di hari ke-50 datanglah surat cinta
itu. Dari Sang Maha Cinta yang memberi jawaban atas kejujurannya. Indah, khusus
ditujukan untuknya dan dua orang sahabat yang melakukan hal yang sama. Jujur
dengan hatinya. Memenangkan keimanan atas kemunafikan.
“Dan terhadap tiga orang yang
ditangguhkan hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu
luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka
telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan
kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam
tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (At
Taubah:118)
Seketika Ka’ab menyungkur syukur dan
menyedekahkan pakaian yang dikenakannya kepada orang yang membawa kabar gembira
tersebut. Dan dunia pun semakin merekah
Kapanpun,
dimanapun, jujur itu selalu indah. Meski terkadang manusia menganggapnya
berlebihan dan sok pahlawan. Terlepas dari itu semua, siapapun kita sepertinya
tak layak untuk melakukan judge minded
hanya berdasarkan perilaku luarnya saja. Allah, hanya Dialah satu-satunya yang
paling berhak untuk itu. Karena kita semua statusnya sama, hanya hambaNya.
alhamdulillah
Belum ada tanggapan untuk "Judge Minded"
Posting Komentar