Setiap
tahun negeri ini selalu memperingati Hari Pahlawan. Ya, mengingat begitu banyak
yang telah mereka persembahkan untuk kita. Bukan cuma-cuma, tapi dengan harga
yang begitu mahal, yaitu jiwa dan raga mereka. Setiap tahun kembali ingat itu
hadir menyapa mereka, lewat sebait do’a yang kita kirim dalam hening cipta
ketika pembina upacara memberi instruksi. Sebentar, hanya sejenak dalam ritme
hidup kita yang panjang.
Sudah
cukupkah itu balas jasa kita kepada mereka? Dengan do’a sepintas lalu untuk
mereka? Untuk semua pengorbanan mereka untuk kita, negeri tercinta ini?
Sejatinya
bagi mereka do’a saja cukuplah sebagai tanda ingat kita pada mereka. Hanya
saja, dari kejauhan sana mereka prihatin dengan kondisi kita. Bersedih dengan
keadaan kita. Bukan pada krisis multidimensi yang sedang kita alami, tapi lebih
pada krisis kepahlawanan yang berada pada titik kulminasi. Sebab menurut Anis
Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia bahwa krisis kepahlawanan adalah
isyarat kematian sebuah bangsa. Negara besar seperti Amerika Serikat sendiripun
pernah mengalami masa depresi ekonomi yang berkepanjangan di tahun 1929 hingga
tahun 1937. Namun mereka berhasil melewatinya lewat tangan-tangan dingin para
pahlawan. Mereka berhasil mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi
kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis
menjadi berkah.
Mengapa
terjadi krisis kepahlawanan? Padahal, jika berkaca pada sejarah negeri ini,
maka bangsa Indonesia dikenal dengan sifat-sifat kepahlawanannya. Bangsa ini
berlimpah pahlawan. Sejak masa penjajahan, entah berapa juta pahlawan yang
berjuang berkorban jiwa raga untuk mengusir penjajah dari negeri tercinta.
Ketika kemerdekaan sudah diraih dan ada yang ingin merebutnya lagi, maka
seketika jiwa-jiwa heroik itu bangkit, mengusir mereka. Kembali, jutaan jiwa
mempersembahkan diri untuk negeri tercinta. Maka, di bangku sekolah kita
diajari tentang gelar para pahlawan. Pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi,
dan pahlawan lainnya.
Negeri
ini, negerinya para pahlawan. Sabang hingga Merauke, semua memiliki pahlawan
yang menginspirasi. Jajaran panjang negeri ini adalah persembahan para
pahlawan.
Namun
sekarang, yang kita saksikan adalah kebalikannya. Negeri ini mengalami krisis
kepahlawanan yang tragis. Karakter kepahlawanan seolah amat langka kita
dapatkan. Rela berkorban, pantang menyerah, mengutamakan kepentingan orang
lain, berani memperjuangkan kebenaran adalah sesuatu yang menjadi barang ‘aneh’
di tengah-tengah kita. Setiap hari yang di suguhkan di hadapan kita adalah para koruptor yang
menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, para penguasa yang tak lagi
berpikir akan kepentingan rakyatnya, pengusaha bermental picik yang
mengorbankan kepentingan masyarakat banyak demi meraup keuntungan untuknya
saja. Aneh memang, tapi beginilah kondisi negeri kita hari ini.
Tapi
harus kita sadari, di bumi yang kita pijak bergema ruh para pahlawan
mengingatkan kita. Jika tetap begini maka tunggulah kehancurannya. Tak butuh
waktu lama. Pilihannya ada di tangan kita, berubah atau binasa.
Jika
pilihan pertama, maka abaikan saja panggilan itu. Namun jika ada sedikit hati
yang mau membuka diri untuk berbenah maka selalu ada jalan keluarnya. Dan
semoga opsi kedua adalah pilihan kita. Saatnya berbenah.
Jika
ditelisik sebabnya, maka semua kita punya andil besar atas kondisi bangsa saat
ini. Dan kita semua punya tanggungjawab untuk memperbaikinya. Pertanyaannya
kemudian adalah bagaimana cara memperbaikinya kembali? Keteladanan, itu kata
kuncinya.
Keluarga
sebagai institusi pertama dan terpenting dalam diri anak harus mampu memberi
keteladanan yang baik bagi figur seorang pahlawan. Orangtua yang tetap memberi
perhatian penuh pada perkembangan anak-anaknya meski harus berkorban waktu
senggang karena telah sibuk dengan pekerjaannya diluar. Orangtua yang selalu
memberi semua yang terbaik untuk anak-anaknya meski mereka harus mengorbankan
kepentingan mereka. Orangtua yang terus melimpahkan kasih sayang kepada anak-anak
meski harus berkorban letih karena juga memiliki tanggungjawab pemenuhan
kebutuhan materi yang juga memerlukan kerja yang sangat ekstra. Figur pahlawan
pertama yang harus menjadi teladan dalam diri anak-anak adalah orangtua mereka
sendiri. Maka, mereka akan belajar menjadi pribadi yang mau memikul amanah dan
tanggungjawab, mau berkorban untuk kepentingan orang lain, dan tidak mudah
menyerah dengan tantangan hidup yang ada.
Institusi
kedua adalah sekolah. Dan tenaga pendidik adalah figur pahlawannya. Keselarasan
apa yang diterima anak dalam keluarga dengan apa yang mereka dapatkan di
sekolah haruslah terjalin kokoh. Tenaga pendidik yang mencurahkan pikiran,
ilmu, wawasan dan pengetahuannya untuk membekali anak didik menjadi pribadi
yang tangguh, yang siap menjawab tantangan zamannya adalah tenaga pendidik yang
sangat dirindukan negeri ini. Sejatinya menyiapkan para pahlawan adalah
pekerjaan besar dan membutuhkan tenaga yang juga besar. Keikhlasan dan
ketulusan para pendidik akan ditangkap anak didik sebagai sebuah anugrah dan
dukungan moral bagi mereka untuk berkarya kedepannya, mempersembahkan karya
terbaik untuk bangsa dan negaranya.
Institusi
ketiga yang tidak kalah urgennya adalah lingkungan. Dimana kita semua,
masyarakat adalah figur-figur yang akan mereka jadikan sebagai teladan di masa
depannya. Lingkungan yang mensupport mereka, memberi kenyamanan, keteduhan bagi
mereka untuk berproses menjadi pahlawan adalah sesuatu yang amat dibutuhkan
generasi kita hari ini. Lingkungan yang kondusif akan mempercepat mereka tumbuh
menjadi generasi yang kontributif. Mereka akan menjadi pribadi yang
mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan individu. Atau
setidaknya tidak merugikan kepentingan orang banyak untuk meraup kepentingan
pribadi yang semu. Mereka akan menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan
bertanggungjawab karena itulah yang mereka saksikan dari lingkungannya.
Ketiga
institusi di atas haruslah berdiri secara holistik. Seperti sebuah segitiga
sama sisi maka ketiganya memberi peran dan andil yang berimbang dalam lahirnya
para pahlawan dalam sebuah negara. Ketidakhadiran salah satunya, atau ketiadaan
peran dari salah satunya akan menyebabkan perwujudan lahirnya para pahlawan
dalam sebuah bangsa adalah kemustahilan dan angan-angan belaka. Sinergitas
antara ketiga peran diatas adalah suatu hal yang niscaya.
Maka,
ketika kita adalah seorang orangtua, seorang pendidik, seorang individu yang
merupakan bagian dari masyarakat kita punya andil besar untuk lahirnya para
pahlawan negeri ini. Maka, bukankah kita juga merupakan seorang pahlawan ketika
kita bisa melahirkan para pahlawan? Maka, sekali lagi negeri ini berlimpah
pahlawan, dan itu adalah hasil kebersamaan dan kepedulian kita semua.
Kita
bukan tidak bisa, hanya belum memulai saja. Kita hanya perlu berjanji merebut
takdir kepahlawanan itu kembali, dan kembali negeri ini akan berlimpah
pahlawan. Sebagai renungan bersama, Chairil Anwar mengusik nurani kita dalam
Karawang Bekasinya.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami.
Selamat
Hari Pahlawan.
(diikutsertakan dalam penulisan opini Harian Analisa memperingata Hari Pahlawan)
Belum ada tanggapan untuk "Negeri Para Pahlawan"
Posting Komentar