Belakangan aku terpikir,
sebuah kisah dimasa Rasulullah dimana ada seorang pemuda yang meminta izin pada
Rasulullah untuk diikutkan dalam batalyon perang. Saat itu Rasulullah bertanya,
“Wahai pemuda, apakah engkau masih memiliki orangtua?”. Pemuda tersebut
menjawab, “Masih ya Rasulullah, aku tinggal dengan ibuku yang sudah lanjut
usianya”. Lantas Rasulullah menanggapi keinginan sang pemuda dengan jawab
“Berbaktilah pada ibumu, itu adalah
jihad bagimu”. Sepenggal kisah yang sedikit mengusik.
Mengusik bersebab ada ragu
untuk kembali ke kampung. Alasan klise, di kampung gak bisa ibadah maksimal
pasti sibuk dengan kerja ini itu. Segala target amalan yaumiyah bakal terjun
bebas tanpa kendali. Pun aktivitas yang bisa mengupgrade diri, membaca, menulis
dan aktivitas lainnya. Tapi benarkah itu kesalahan terjadi karena kita dekat
dengan orangtua? Orangtua yang menjadi pintu syurga kita. Rindu itu mungkin
sudah membuncah di dada mereka, menunggu kepulangan kita.
Tak banyak memang
yang bisa kita lakukan, membantu pekerjaan rumah, sesekali ke kebun atau sawah,
mendengar ia bercerita berbagai peristiwa yang terjadi selama kita tidak ada,
sesekali juga megolesi tubuhnya yang mulai menua dengan minyak kusuk seperti pintanya.
Terkadang atau sering kita jadi tempatnya untuk mengomel masalah ini dan itu,
dan kita cukup menyediakan telinga saja. Sederhana, tapi bagi mereka itu sangat
berharga.
Masihkah alasan bermacam itu
membuat kita membenarkan penangguhan kepulangan untuk menjenguk mereka, memberi
bakti yang amat kecil dibandingkan segala pengorbanan yang mereka perbuat untuk
kita. Semoga kesempatan untuk berbakti itu masih ada, sehingga pintu-pintu
syurga itu akan terbuka untuk kita di Ramadhan mulia ini. Ayo pulang kampungJ
Artikel lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Right Path"
Posting Komentar